skip to main |
skip to sidebar
Perkawinan
adalah sebuah ikatan suci, dengan tujuan membina rumah tangga yang bahagia dan
kekal selama-lamanya. Sebelum proses perkawinan, seseorang akan dihadapkan pada
kesiapan mental dan pola pikir yang mumpuni, sehingga perkara dalam rumah
tangga dapat diselesaikan dengan jalan diskusi yang baik dan sehat. Intinya,
berkeluarga adalah untuk mencapai kesempurnaan hidup dan bahagia bersama
pasangannya. Bukankah manusia diciptakan berpasang-pasangan?
Dalam
hal pernikahan ini, yang penulis ketahui seluruh agama pun mempunyai upacaranya
sendiri-sendiri. Ini menandakan bahwa sebuah pernikahan adalah sacral, tidak
hanya hubungannya dengan manusia, namun juga hubungan dengan Tuhan. Oleh
karenanya, bila dinalar, bukankah perceraian adalah hal yang dibenci Tuhan.
Dalam hukum Indonesia sendiri, sebuah perceraian itu dipersusah syaratnya,
karena memang tujuan pernikahan adalah mewujudkan keluarga yang kekal dan
abadi. Sebelum melakukan perceraian pun seorang hakim akan berusaha mendamaikan
terlebih dahulu sebelum kemudian perceraian dijadikan jalan keluar terakhir.
Lalu
kenapa ada “Divorce Hotel”? yakni firma buatan Jim Halfen dari Belanda yang
membantu pasangan untuk bercerai dengan hanya menginap dua hari. Dalam dua hari
tersebut, pasangan akan dibantu menyelesaikan segala urusan dalam hal
perceraian, seperti asset-aset, harta lainya, serta hak asuh anak. Memang, ada
sisi positif dan negatifnya? Namun, subyektif penulis, dengan adanya Divorce
Hotel yang mempermudah urusan perkawinan akan membuat orang lebih gampang
melakukan perceraian daripada berusaha mempertahankannya. Bukankah sebuah
masalah selalu ada solusinya, hanya saja bagaimana proses penyelesainya itulah
yang utama.
Moment
pernikahan bukanlah ajang main-main, perlu keseriusan dan kematangan diri
(mental). Selain itu, sebelum menikah harus benar-benar dipikirkan, tujuan apa
yang akan dituju dengan pernikahan tersebut. Jika pernikahan adalah hal yang
sakral, maka tujuannya juga adalah pencapaian jiwa spiritual manusia, bukan
sekedar pelampiasan hawa nafsu, pengikatan, dan kesenang-senangan semata.
Bayangkan,
jika dengan adanya Divorce Hotel kemudian orang akan berpikir bahwa bercerai
itu mudah, sehingga dia juga akan berpikir gampang untuk menikah tanpa
memperdulikan apa saja yang mesti diperhatikan untuk mempertahankan rumah
tangganya kelak jika ada masalah. Selama ini mindset awal perceraian adalah hal yang sulit dan menakutkan dapat
dengan mudah berubah, menjadi sesuatu yang lumrah dan wajar. Ini berarti
menjadi masalah pertanggungjawabanya yang lemah dan tak ada komitmen dari awal.
Jika dalam salah satu agama, Islam, tujuan nikah adalah sangat sakral, bukan
hanya karena tujuan pribadi, melainkan menikah itu karena Allah, karena Tuhan.
Disinilah letak transenden nya
pernikahan, sehingga disebut ikatan suci.
Penulis
pun berharap, semoga jika Divorce Hotel ini disukai di Barat maka dibenci di
Indonesia, bukan karena kemudahannya yang ditawarkan, namun karena bertentangan
dengan nilai-nilai lokal, baik hukum, adat dan agama. Semoga tidak masuk
Indonesia. Amien.
0 komentar:
Posting Komentar