Sabtu, 14 Juli 2012

Kritik Divorce Hotel


 Perkawinan adalah sebuah ikatan suci, dengan tujuan membina rumah tangga yang bahagia dan kekal selama-lamanya. Sebelum proses perkawinan, seseorang akan dihadapkan pada kesiapan mental dan pola pikir yang mumpuni, sehingga perkara dalam rumah tangga dapat diselesaikan dengan jalan diskusi yang baik dan sehat. Intinya, berkeluarga adalah untuk mencapai kesempurnaan hidup dan bahagia bersama pasangannya. Bukankah manusia diciptakan berpasang-pasangan?

Dalam hal pernikahan ini, yang penulis ketahui seluruh agama pun mempunyai upacaranya sendiri-sendiri. Ini menandakan bahwa sebuah pernikahan adalah sacral, tidak hanya hubungannya dengan manusia, namun juga hubungan dengan Tuhan. Oleh karenanya, bila dinalar, bukankah perceraian adalah hal yang dibenci Tuhan. Dalam hukum Indonesia sendiri, sebuah perceraian itu dipersusah syaratnya, karena memang tujuan pernikahan adalah mewujudkan keluarga yang kekal dan abadi. Sebelum melakukan perceraian pun seorang hakim akan berusaha mendamaikan terlebih dahulu sebelum kemudian perceraian dijadikan jalan keluar terakhir.

Lalu kenapa ada “Divorce Hotel”? yakni firma buatan Jim Halfen dari Belanda yang membantu pasangan untuk bercerai dengan hanya menginap dua hari. Dalam dua hari tersebut, pasangan akan dibantu menyelesaikan segala urusan dalam hal perceraian, seperti asset-aset, harta lainya, serta hak asuh anak. Memang, ada sisi positif dan negatifnya? Namun, subyektif penulis, dengan adanya Divorce Hotel yang mempermudah urusan perkawinan akan membuat orang lebih gampang melakukan perceraian daripada berusaha mempertahankannya. Bukankah sebuah masalah selalu ada solusinya, hanya saja bagaimana proses penyelesainya itulah yang utama.

Moment pernikahan bukanlah ajang main-main, perlu keseriusan dan kematangan diri (mental). Selain itu, sebelum menikah harus benar-benar dipikirkan, tujuan apa yang akan dituju dengan pernikahan tersebut. Jika pernikahan adalah hal yang sakral, maka tujuannya juga adalah pencapaian jiwa spiritual manusia, bukan sekedar pelampiasan hawa nafsu, pengikatan, dan kesenang-senangan semata.

Bayangkan, jika dengan adanya Divorce Hotel kemudian orang akan berpikir bahwa bercerai itu mudah, sehingga dia juga akan berpikir gampang untuk menikah tanpa memperdulikan apa saja yang mesti diperhatikan untuk mempertahankan rumah tangganya kelak jika ada masalah. Selama ini mindset awal perceraian adalah hal yang sulit dan menakutkan dapat dengan mudah berubah, menjadi sesuatu yang lumrah dan wajar. Ini berarti menjadi masalah pertanggungjawabanya yang lemah dan tak ada komitmen dari awal. Jika dalam salah satu agama, Islam, tujuan nikah adalah sangat sakral, bukan hanya karena tujuan pribadi, melainkan menikah itu karena Allah, karena Tuhan. Disinilah letak transenden nya pernikahan, sehingga disebut ikatan suci.

Penulis pun berharap, semoga jika Divorce Hotel ini disukai di Barat maka dibenci di Indonesia, bukan karena kemudahannya yang ditawarkan, namun karena bertentangan dengan nilai-nilai lokal, baik hukum, adat dan agama. Semoga tidak masuk Indonesia. Amien.

0 komentar:

Posting Komentar