Jangan terkejut apabila beberapa hari, satu dua minggu, mungkin juga sebulan lebih usai menikah bayangan sempurna suami / istri ternyata jauh panggang dari api. Suami kesal karena istrinya tidak seperti ratu, yang sempurna di dapur dan juga di kasur. Istri juga dongkol karena suaminya, yang diidamkan sebagai pangeran ternyata mengecewakan.
Ada yang beranggapan derita di pernikahan itu 10x lebih berat daripada waktu berpacaran. Mungkin kalimat itu berlebihan, tapi bisa jadi ada benarnya juga. Suami / istri seakan melihat semua pemandangan mengecewakan, jauh dari apa yang diidamkan saat sebelum pernikahan. Fakta yang terlihat dari sikap dan perilaku suami / istri terpapar buruk. Suami kesal ketika mengetahui istrinya memasak telur mata sapi saja gosong. Sang istri, yang melihat penampilan keren suami sepanjang waktu saat sebelum menikah, baru mengetahui suaminya punya hobby meletakkan pakaian kotor di sembarang tempat. Pulang kantor sepatu diletakkan seenaknya. Kaos kaki malas ganti hingga baunya menyebar ke seluruh ruangan rumah. Alhasil semua impian dan harapan indah seakan luluh lantak.
Inilah titik awal paling rawan hubungan suami istri. Impian berbeda dari kenyataan. Segala harapan dan bayangan indah, ternyata berbanding terbalik.
Bukan tidak mungkin fakta nyata yang terpapar itu menjadi amunisi pemicu perceraian. Bergulung-gulung seperti bola salju, menggelinding makin besar. Makin lama kekecewaan makin menggunung. Apalagi ketika tak ada lagi komunikasi. Jarak makin jauh, masalah makin menumpuk tak terselesaikan.
Ketika seseorang menikah, harus siap menerima keadaan apa adanya. Ketika ijab kabul diucapkan seorang suami mau pun istri, harus siap menerima apa pun keadaannya. Tidak usah berfilsafat seperti pedagang : barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan dan karena tak dapat dikembalikan lalu dicampakkan. Yang terpenting ada keikhlasan saling menerima.
Tapi apakah bisa? HARUS BISA !! Bahkan perlu ditegaskan bahwa salah satu kunci utama kelanggengan sebuah perkawinan adalah kesediaan menerima kekurangan masing-masing. Suami menerima kekurangan istri, istri menerima kekurangan suami. Kedua, suami istri itu, berupaya saling mengisi. Kelebihan suami mengisi kekurangan istri, kelebihan istri mengisi kekurangan suami.
Lupakan keindahan yang terbentang sebelum menikah, yang biasanya memang dipaksakan terlihat indah. Bungkus rapat-rapat semua aroma manis yang ditebar saat pacaran di malam minggu, karena ternyata semuanya kadang tak lebih dari bunga plastik. Buang jauh-jauh seribu janji, yang faktanya tak terealisasi karena sebenarnya memang tak ada kemampuan. Jalani hidup di alam nyata.
Mulailah masing-masing membangun kesadaran diri, menyadari dan memahami diri sendiri. Suami harus sering menatap cermin bahwa dirinya, begitu banyak kekurangan. Istri pun demikian, jangan hanya berkacak pinggang didepan kaca sambil memoles bibir, tapi menatap dengan jujur bahwa dirinya, ternyata tak bisa memenuhi harapan.
Ketika ada kesadaran bahwa 'aku' memang dipenuhi kekurangan, bangkitkan sikap lapang dada untuk menerima kekurangan orang lain. Suami menerima kekurangan istri, demikian pula istri menerima kekurangan suami. Selesai? Belum. Kesadaran kekurangan tidak boleh stagnan. Kesadaran kekurangan diri harus dilanjutkan menuju proses saling belajar.
Ini memang tidak mudah. Tetapi bila suami istri sudah menyadari tentang kekurangannya, titik menuju kebersamaan sudah dimulai. Kesadaran kekurangan diri itu dapat menjadi landasan utama untuk memulai sebuah proses yang sesungguhnya. Proses kebersamaan.
Tak ada yang sempurna di dunia ini. Benar, istri memiliki kekurangan. Dan ingat, bukan hanya istri yang berada di dalam rumah kita yang memiliki kekurangan. "Istri-istri" (baca : perempuan lain) yang terlihat indah dan sempurna yang berada di luar rumah, juga memiliki kekurangan ketika telah menjadi belahan dan bagian hidup dari seorang suami.
Demikian pula, suami yang ternyata memiliki kekurangan, tidak usah lagi dibandingkan dengan laki-laki lain yang terlihat bagai pangeran berkuda putih nan sempurna. Mereka itu, terlihat sempurna karena jauh dan belum menjadi bagian dan belahan hidup dari seorang istri.
Pernikahan pada dasarnya sebuah proses pembelajaran terutama tentang diri. Bukan tentang orang lain. Mudah melihat kekurangan orang lain; tidak mudah melihat kekurangan diri. Ketika melihat dan menyadari kekurangan diri, kita baru boleh dan merasa siap melihat kekurangan orang lain. Ketika itu terjadi, kita tidak akan mudah menyalahkan orang yang kita cintai dan sayangi. Tetapi berusaha bersama untuk memperbaiki kekurangan, membetulkan kesalahan, meningkatkan yang telah baik menjadi jauh dan jauh lebih baik.
Jangan pernah membandingkan dengan yang berada di luar rumah. Yang terkesan sempurna di luar rumah, karena belum terlihat aslinya. Belum menjadi bagian dan belahan hidup.
Jadi, sudah siapkah anda menikah?
0 komentar:
Posting Komentar