Tak ada manusia yang tidak membutuhkan perhatian. Pada dasarnya, manusia adalah mahluk yang 'haus perhatian'. Hal ini lumrah, karena dalam dinamika hidupnya manusia selalu membutuhkan 'pengakuan' dari orang lain atau dengan kata lain 'existensi' atas dirinya. Seperti halnya saat orang diam sendiri, atau dia memang sedang gundah dan membutuhkan waktu benar-benar sendiri bersama dirinya. Sikap diam dan menghindar seperti itu juga membutuhkan perhatian, yakni dia ingin orang tahu bahwa dia sedang ingin sendirian, dan mohon orang lain mengerti. Bukankah itu juga bentuk perhatian?
Perhatian adalah hal mendasar, bahkan dalam arti yang sangat sempit sekalipun. Perhatian berarti orang belajar untuk mengerti dan memahami orang lain, perhatian adalah cara menyesuaikan diri dengan sikap serta emosi orang lain, dia tahu bagaimana saat yang tepat untuk 'masuk' ke dalam emosional orang lain.
Ada banyak cerita tentang bagaimana orang salah memberikan atau menempatkan perhatiannya kepada orang lain, baik dalam hubungan teman, keluarga, kekasih, dan lain sebagainya. Kesalahan dalam menempatkan perhatian/masuk ke orang lain dapat merenggangkan suatu hubungan, karena nantinya ada 'ketidaknyamanan' dan menimbulkan 'penolakan' terhadap penyebab ketidaknyamanan tersebut. Bila kita tidak nyaman akan sikap teman atau orang terdekat kita maka akan muncul rasa penolakan dalam diri. Penolakan itu di perkuat dengan ucapan 'dia tak mengerti aku'. Hal ini jika terus berlarut maka akan menimbulkan kerenggangan. Saat kita tak nyaman terhadap seseorang, maka orang tersebut pastilah akan merasakan 'ketidaknyaman' kita akan dirinya. Sudah barang tentu peluang untuk renggang baik secara terliihat atau tidak yakni menyembunyikan dalam hati akan semakin besar dan membesar.
Kunci menjaga hubungan dengan meningkatkan perhatian kepada orang lain adalah keterbukaan. Dengan mengungkapkan hal atau jenis perhatian yang tidak disukai oleh orang lain terhadap diri kita maka akan ada sebuah pembelajaran baru, walau pembelajaran ini sifatnya tidak spontanitas, tetapi sebuah proses yang bertahap. Ada memang yang dapat dengan spontanitas, tetapi sangat jarang. Selain terbuka juga yang penting adalah penghargaan. Seseorang yang memberi perhatian kepda kita pada hakikatnya karena dia sayang kepada kita, saat ada yang memberi perhatian baik itu nyaman atau tidak maka pikirkan dulu lebih matang, bila kita memang benar-benar tak nyaman ungkapkan dengan baik demi menghargai si pemberi perhatian.
BANYAK ORANG MENGENAL DENGAN BAIK ORANG LAIN, LALU DIA MEMBERIKAN PERHATIAN SEOLAH-OLAH DIA TAHU APA YANG TERBAIK, PADAHAL YANG TERJADI SEBALIKNYA, PERHATIAN ITU MENJADI PENGGANGGU HIDUP ORANG LAIN. TAPI BANYAK JUGA ORANG YANG TIDAK MENGENAL DIRINYA, HINGGA IA HANYA BERKUTAT PADA EMOSINYA YANG FLUKTUATIF. KEMUDIAN, SIKAP APATIS DAN SUBYEKTIVISME YANG MUNCUL DALAM SEGALA POLA PIKIRNYA.
0 komentar:
Posting Komentar