Rabu, 16 Maret 2011

Senyawa

Dalam budaya barat angka 6 dikenal sebagai angka setan, sedangkan dalam beberapa kepercayaan angka 13 dianggap sebagai angka sial. Tapi dalam urusan percintaan mungkin angka tiga lah yang paling menakutkan. Lihat saja di infotainment, akhir-akhir ini sering diberitakan banyak pasangan selebriti berpisah karena hadirnya orang ketiga.

Itu yang terlihat dan diekspos karena kebetulan kehidupan pribadi mereka memang sudah menjadi milik publik tanpa privasi sedikit pun. Bagaimana dengan yang tidak tersorot kamera dan tidak terekspos media? Sepertinya sama saja. Di salah satu koran lokal yang pernah saya baca, saya menemukan sebuah artikel yang bercerita bahwa ternyata penyebab perceraian paling tinggi di daerah saya adalah karena hadirnya orang ketiga. Bukan karena himpitan ekonomi. Bukan pula karena KDRT.

Apakah semakin dekatnya tema orang ketiga dalam kehidupan kita sehari-hari ini berbanding lurus dengan semakin menjamurnya lagu-lagu yang bertema sama? Entahlah.

Saya pernah bertanya pada ibu saya, apakah jaman dulu tema orang ketiga ini juga sudah sepopuler sekarang? Dan ternyata tidak sepopuler sekarang karena kata beliau orang jaman dulu lebih nrimo dibanding orang sekarang. Nrimo jika suami suka mengumpat. Nrimo jika suami tidak menafkahi. Nrimo jika istri galak. Nrimo jika istri pasif dalam urusan ranjang.

Lalu kenapa sih orang selingkuh?

Ada yang menjawab karena jenuh dengan pasangan, ada yang menjawab pasangannya ternyata kurang yoi dibanding si orang ketiga, ada yang menjawab pasangannya tidak bisa lagi menyalakan semangat dalam dirinya. Ada pula yang menjawab karena sudah tidak ada chemistry.

Cinta adalah perasaan yang muncul dari beberapa reaksi kimia dalam tubuh, salah satu efeknya adalah mengaktifkan hormon oksitosin atau hormon pembuat rasa nyaman.Hormon inilah yang selanjutnya memicu pikiran kita untuk tetap ingin dekat dengan seseorang karena rasa nyaman tersebut.

Hubungan antara dua manusia sebenarnya membutuhkan reaksi kimia, baik hanya berupa timbulnya oksitosin bahkan hingga persenyawaan dari progesteron dan testoteron. Mungkin oleh karena itu pula kita bisa dengan mudahnya menolak atau meninggalkan seseorang hanya dengan bermodal ‘nggak ada chemistry’, begitu pula sebaliknya. Kita bisa mati-matian tertarik kepada seseorang hanya dengan beralasan ‘chemistry-nya dapet banget’.

Sebenarnya perselingkuhan tidak hanya terjadi di dunia manusia saja, saya pernah menonton sebuah acara di televisi yang membahas tentang penelitian pada salah satu spesies burung yang hanya berkembang biak dengan 1 pasangan, ternyata ditemukan fakta yang mengejutkan bahwa apabila si betina tidak puas dengan si pejantan pasangannya maka ia akan pergi ke sarang lain dan membunuh betina penghuni sarang itu demi untuk bercinta dengan si pejantan pasangan betina tersebut.

Jangan salahkan hormon oksitosin yang meledak-ledak ketika dekat dengan seseorang yang bukan pasangan kita, jangan pula menyalahkan reaksi kimia dalam tubuh yang mengakibatkan adiksi ketika bertemu dengan lawan jenis. Kita bukan burung, kita adalah manusia, makhluk yang (katanya) dibekali anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa berupa akal dan pikiran dan tentu saja kekuatan untuk memilih. Memilih mana yang baik dan mana yang tidak.

Yang pasti saya berharap, semoga nanti saya tidak membutuhkan additional player untuk meledakkan oksitosin dalam tubuh saya, untuk bertukar progesterone-testoteron, dan untuk memicu persenyawaan reaksi kimia lainnya. Karena dalam urusan percintaan, semoga angka favorit saya adalah dua. Bukan tiga. Apalagi empat.




-untuk sang pemicu reaksi kimia tanpa henti-

0 komentar:

Posting Komentar